MOHAMMAD NATSIR: DARI PERSIS UNTUK NKRI
Kiranya semua orang mengenal
atau pernah mendengar nama Mohamad Natsir. Siapa yang tak kenal tokoh besar
kelahiran tanah Minang pada 1908, lebih dari seabad yang lalu itu. Namun, tak
banyak yang mengetahui, sosok legendaris yang jadi panutan umat Islam ini
tumbuh-dewasa dari rahim jamiyah reformis di Bandung, Jawa Barat. Ya, tiada
lain tiada bukan ialah jamiyah Persatuan Islam yang lebih terkenal dengan nama
akronim PERSIS.
Jamiyah inilah yang paling
awal membesarkannya. Bukan Masyumi, bukan pula Dewan Dakwah. Dua organisasi
terakhir ini memang berperan tidak sedikit sebagai medium Natsir dalam
berpolitik dan berdakwah, sehingga identik-melekat pada diri-pribadinya. Tapi
PERSIS-lah yang menjadi kawah-candradimuka paling awal dan yang sesungguhnya.
Sebagaimana ditegaskan Profesor Taufik Abdullah pada buku Pemikiran dan
Perjuangan M. Natsir (hlm. 27), dua tahap awal yang paling menentukan pada
Natsir adalah tahap sebagai pembela agama dan tahap sebagai guru, sebelum pada
tahap berikutnya sebagai politisi. Dua tahap menentukan itu jelas ketika Natsir
aktif di PERSIS..!!
Memang, Natsir adalah
produk-kaderisasi jamiyah Persis, melalui tangan dingin Tuan A. Hassan. Tidak
hanya belajar agama, tapi juga pendewasaan kepribadian, mematangkan pikiran.
Dari A. Hassanlah, Natsir belajar berargumentasi dan menjadi penulis-ulung pada
zamannya. Hal ini diakui sendiri oleh Natsir. Ketika diwawancarai oleh AW.
Pratiknya, Amien Rais, Kuntowijoyo dan lainnya, Natsir menyatakan: “..dari tuan
Hassan itu satu hal yang sangat berkesan pada diri saya ialah caranya mendorong
saya untuk maju. Dia selalu mendiskusikan bersama dan mendorong saya selalu
berfikir.” (AW. Pratiknya, Percakapan Antar Generasi, hlm. 29). Tak tanggung-tanggung,
Natsir berdebat melalui tulisan dengan tokoh pergerakan Nasional, Soekarno.
Sampai-sampai Soekarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi menyatakan
pujiannya melalui surat kepada Tuan A. Hassan: “..haraplah sampaikan saja punja
compliment kepada tuan Natsir atas ia punja tulisan-tulisan jang berbahasa
Belanda. Antara lain ia punja inleiding didalam Komt tot het gebed adalah
menarik hati” (hlm. 326). Pada bagian Soekarno juga menyatakan: “Alangkah
baiknja kalau tuan punyja muballigh nanti bermutu tinggi, seperti tuan M.
Natsir!” (hlm. 336).
Atas dukungan PERSIS,
Natsir-muda bereksperimen mendirikan sebuah pendidikan modern yang berlandaskan
agama Islam; PENDIS. Di Jamiyah ini pulalah Natsir mula-mula bereksperimen
mengatur dan menata-ulang jamiyah yang asalnya lebih berkarakter sebagai
study-club, menjadi sebuah organisasi modern. Natsir pun berjasa dalam
penyusunan AD/ART yang diajukan ke Majelis Kehakiman Hindia Belanda, agar
PERSIS diakui sebagai Ormas yang legal.
Adalah Buya Hamka, tokoh
pusat Muhammadiyah, yang begitu terpesona terhadap Natsir selagi muda. Sebelum
bertemu dengan Natsir, Buya Hamka telah lebih dulu mengenal pemikiran kader
muda Persis ini dari tulisan-tulisan yang menarik hati dan otaknya. Makanya,
ketika akhir tahuh 30-an Buya Hamka mempunyai acara ke Kota Bandung, kesempatan
ini tidak disia-siakannya untuk bertamu ke organisasi yang dikenal puritan ini,
untuk bertemu Natsir. Kesannya, Natsir adalah prototype Pemuda Islam yang
ideal: tampan, cerdas, ditambah dengan kaca-mata minus yang menambah rasa
inteletualitasnya. Yang paling penting adalah pembawaan sikapnya yang tenang,
tawadlu, serta sederhana. Karakter ini dibawa Natsir hingga ketika menjadi
pejabat tinggi Negara. Sebagaimana kesaksian ilmuwan politik Barat, George Mc
Turnan Kahin yang tercengang ketika bertemu Menteri Penerangan Natsir, melihat
ia memakai jas yang bertambal-tambal..! Bahkan ketika Natsir melepaskan jabatan
sebagai Perdana Menteri pun, ia pulang dari rumah dinasnya dengan berkendara
sepeda. Kahin hanya bisa geleng-geleng kepala, takjub.
Inisiator NKRI
Ketika menyatakan sikap
Fraksi Partai Masyumi pada Sidang Parlemen 3 April 1950, Natsir mengajukan
usulan terkait pembentukan Negara Kesatuan, untuk menggantikan Republik
Indonesia Serikat (RIS) hasil perundingan KMB dengan Belanda. Pidato lengkap
Natsir ini bisa kita baca pada buku Capita Selecta II yang diterbitkan Pustaka
Pendis Djakarta tahun 1957, mulai halaman 3 sampai 7. Mengawali usulannya,
Natsir berusaha untuk memisahkan permasalahan unitarisme vs federalisme, namun
justru diarahkan pada tujuan perjuangan kemerdekaan. Hal ini tampaknya
ditujukan supaya tidak terjadi perdebatan yang melelahkan terkait paham dan
struktur Negara. Sehingga lebih baik, kata Natsir, “..mendjauhkan diri dari
pada pembitjaraan soal unitarisme dan federalisme dalam hubungan mosi ini.
Orang yang setudju dengan mosi ini, tidak usah berarti bahwa orang itu
unitaris, orang federalis pun mungkin djuga dapat menjetudjuinja.”
Inilah kecerdasan diplomasi
Natsir. Ia berusaha merangkul semua golongan yang ada di Parlemen demi golnya
Mosi Integral. Mosi itu sendiri diajukan sebagai solusi strategis kebangsaan,
bukan hanya untuk kepentingan Partai Masyumi.
Namun secara tidak langsung,
Natsir menegaskan bahwa bentuk kenegaraan federalistik berdasarkan kepentingan
Belanda dengan garis van Mook-nya itulah duri dalam daging yang menyebabkan
perpecahan bangsa, sehingga tujuan inti Negara menjadi sulit tercapai: Usaha
kemakmuran rakyat, penjaminan keamanan, tidak dapat berjalan selama belum ada
ketentuan politik dalam negeri. Politieke-rust, istilah yang dipakai Natsir,
“…tidak dapat ditjiptakan selama masih ada “duri-dalam-daging” jang dirasakan
oleh rakyat, jang walaupun kedaulatan sudah di tangan kita, tapi kita masih
berhadapan dengan struktur-struktur colonial serta alat-alat politik
pengepungan yang ditjiptakan oleh Van Mook di daerah-daerah."
Natsir mengilustrasikan kondisi di daerah
dengan sangat jelas. Apalagi kemudian dihubungkan dengan tujuan perjuangan
kemerdekaan bangsa Indonesia. Kelihaian ini jadi seni politik-diplomatik
tersendiri. Natsir berkesempatan berkeliling ke daerah dan berjumpa, berdialog
dengan tokoh-tokoh di Sumatera, Jawa serta Sulawesi. Memang kesempatan ini
difasilitasi Perdana Menteri (PM) RIS Mohammad Hatta yang menugaskan Natsir dan
Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis
di daerah. Pengalaman keliling daerah menambah jaringan Natsir. Selain itu,
kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ
Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah
mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan
diri untuk bersatu dengan Yogya—maksudnya RI—asal jangan disuruh bubar sendiri.
Lobi Natsir ke pimpinan
fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah-daerah lalu
diformulasikan kedalam dua susunan kata yang sangat strategis: ”Mosi Integral”.
Sebab, menurut Natsir, “suara-suara rakjat dari berbagai daerah dan mosi-mosi
Dewan Perwakilan Rakjat sebagai saluran dari suara-suara rakjat itu, untuk
melebur daerah-daerah buatan Belanda dan menggabungkannja ke dalam Republik
Indonesia.” Pernyataan Natsir ini sangat meyakinkan, apalagi ditambah penegasan
bahwa “politik pengleburan dan penggabungan itu membawa pengaruh besar tentang
djalannja politik umum di dalam negeri dari pemerintahan di seluruh Indonesia.”
Selain Natsir, Mosi Integral
tersebut ditandatangani oleh berbagai faksi politik: Soebadio Sastrasatomo,
Hamid Algadri, Ir. Sakirman, K. Werdojo, Mr. AM. Tambunan, Ngadiman
Hardjosubroto, B. Sahetapy Engel, Dr. Tjokronegoro, Moh. Tauchid, Amelz, dan H.
Siradjuddin Abbas. Ini menunjukkan gagasan politik Natsir diakui strategis oleh
semua golongan politik yang ada di Parlemen, termasuk Pemerintah.
Mosi Natsir ini diterima
baik oleh semua pihak. PM Mohammad Hatta, wakil Pemerintah, menegaskan akan
menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan. Akhirnya, pada 19 Mei 1950, pertemuan digelar
di Jakarta antara RI dan Pemerintah RIS serta wakil negara-negara bagian Hindia
Timur juga Sumatra Timur. Lahirlah Piagam Pembentukan Negara Kesatuan. Pada 15
Agustus 1950, Presiden Soekarno membacakan piagam tersebut dalam sidang bersama
Parlemen dan Senat RIS. Dua hari kemudian, bertepatan dengan ulang tahun kelima
RI, Presiden Soekarno mengumumkan lahirnya NKRI.
Jelas Mosi Integral Natsir
ini menjadi pintu masuk pembubaran RIS sekaligus jalan pembuka berdirinya NKRI.
Tak heran, ketika NKRI dibentuk, Presdien Soekarno tidak berpikir panjang untuk
memilih pemimpin Pemerintahan. Ya, Natsir pun didapuk menjadi Perdana Menteri
NKRI yang pertama!
Dengan demikian, adalah
pernah suatu ketika dalam sejarah politik Indonesia, jamiyah Persatuan Islam
memberikan putra terbaiknya untuk memimpin bangsa ini. Mudah-mudahan terus
lahir dari rahim Persatuan Islam, Natsir-Natsir muda untuk menjadi dan
dipersembahkan sebagai “putra terbaik bangsa”. Amiin Ya Rabb.***
Pepen Irfan Fauzan, M.Hum
adalah Anggota Dewan Tafkir PP Persis dan Bidgar SDM&O PD. Persis Garut.

Post a Comment