Dinamika Jamiyyah Persatuan Islam
IPPI SELENGGARAKAN SEMINAR SUPER MUSLIMAH
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Persis Putri (IPPI) selenggarakan
acara Seminar Super Muslimah Untuk Pelajar Muslimah dengan tema “Hijrah Together For Better Generation“,
Ahad (05/02/2017) di Gedung Serbaguna Balai Kota Bandung Jl. Wastukencana.
Peserta yang hadir kurang lebih 200 santriwati dari berbagai
daerah di Jawa Barat. Peserta yang datang dari Kota Tasikmalaya sengaja hadir
dan menginap di Kantor PP Persis.
Ghinan Rinda Dewi selaku ketua Panitia Acara menyampaikan bahwa
maksud dan tujuan diadakannya acara seminar ini.
“Pertama, menjadi pelajar yang gaul namun tetap memegang prinsip
Al-Quran dan As-Sunnah. Kedua, mampu berhijrah dan tetap berdakwah, ketiga,
memotivasi pelajar agar berani bermimpi dan menggapai cita-citanya. Keempat,
berprestasi dalam bidang akademik dan non-akademik”, papar Ghinan.
Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Persis Putri, Nida Shofiah,
memaparkan bahwa Super Muslimah ini memiliki maksud dan tujuan syiar dan dakwah
untuk para muslimah khususnya generasi muda menuju gerbang Hijrah.
Nida melanjutkan, Hijrah dimaknai dengan berubahnya seseorang
dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Melihat realita di era ini
generasi muda merupakan sasaran empuk para musuh Islam untuk diperangi dan
dihancurkan secara ideolgi dan keimanan.
Banyak pemuda khususnya kaum muda Islam Indonesia yang belum
siap menerima tantangan zaman yang pada akhirnya modernisasi menjadi abu-abu.
Bukannya meniru kemajuan berupa peradaban ilmu dan teknologi yang kini
berkembang di barat, malah kini kaum muda merasa “keren” jika gaya food,
fashion dan fun nya mengiblat ke barat.
Sejatinya generasi muda perlu memiliki tameng diri dan pondasi
yang kokoh untuk menghadapi itu semua. Maka dari itu PP IPPi ingin menawarkan
solusi berupa dihadirkannya pemateri-pemateri inspiratif yang bisa membekali
diri bagaimana sejatinya menjadi seorang muslimah dan bagaimana diri kita tetap
dalam keimanan.
Hijrah adalah upaya kita jihad, namun jihad tak cukup iman. Jihad
juga perlu ukhuwah. Oleh karena itu PP IPPi pun diharapkan bisa memfasilitasi
para pelajar muslimah untuk sama-sama berjihad menuju generasi yang
Ibadurrahman dengan karakteristik ar-rasikhuna fil ‘ilmi.
Disamping itu tujuan diselenggarakannya Super Muslimah untuk
mengenalkan organisasi Ikatan Pelajar Persis Putri (IPPi) kepada para pelajar
muslimah Persis khususnya di kota bandung dan sebagai ajang silaturrahim IPPi
dengan Otonom Persistri, Pemudi dan Himi, Jelas Nida.
Acara dibuka oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Persistri, Hj. Lia
Yuliani, M.Pd, yang dalam sambutannya beliau mengapresiasi dengan baik acara
seminar tersebut dan berharap agar organisasi Ikatan Pelajar Persis putri ini
menjadi kader Persistri di masa yang akan datang.
Panitia acara menghadirkan dua pemateri yang sudah kompeten di
bidangnya. Pertama, Indah Khoiril Bariyyah, Ketua PP.IPPi Periode 2011-2013.
Kedua, Febrianti Almeera, Book’s Writer and Trainer dan Founder “Great
Muslimah”
Dan juga menghadirkan santriwati-santriwati Persis berprestasi
untuk berbagi pengalaman dan motivasi. Yaitu :
1. Rafhnisyaira Aulia H (Peserta LELAC (Leadership of English Language) di University of Science Malaysia dari PPI No. 80 Sindangkasih Ciamis.
2. Aliya Mutmainah (Hafidzhah 15 Juz) dari PPI No. 04 Cianjur.
3. Anis Nida Hanifah (Peraih medali Emas di Olimpiade Biologi Nasional Tingkat MTs/SMP sederajat dari PPI No. 31 Banjaran).
1. Rafhnisyaira Aulia H (Peserta LELAC (Leadership of English Language) di University of Science Malaysia dari PPI No. 80 Sindangkasih Ciamis.
2. Aliya Mutmainah (Hafidzhah 15 Juz) dari PPI No. 04 Cianjur.
3. Anis Nida Hanifah (Peraih medali Emas di Olimpiade Biologi Nasional Tingkat MTs/SMP sederajat dari PPI No. 31 Banjaran).
Ada juga tutorial handycraft oleh Putri Andriani yang hasilnya bisa
langsung dibawa pulang.
Acara di meriahkan juga oleh Tim Kesenian Angklung ” Sugema”
dari PPI NO. 02 Pajagalan Bandung. (/ANP)
+++++
Musykernas III PP Pemudi Persis, Kuatkan Pembinaan
Kader
Pimpinan Pusat Pemudi Persis menyelenggarakan Musyawarah Kerja
Nasional (musykernas) III di Aula Persistri, Jl. Kalipah Apo, Ahad 07 Jumadil
Ula 1438 H yang bertepatan dengan tanggal 05 Pebruari 2017 M.
Acara tersebut dihadiri oleh 4 Pimpinan Wilayah (PW) Pemudi
Persatuan Islam yaitu Jawa Barat, Banten, Yogyakarta dan Gorontalo.
Tema yang diusung pada musykernas III adalah penguatan
pembinaan kader menuju pemudi Sholihah berakhlakul karimah
“Setelah di musykernas I kita berupaya untuk menegaskan jati
diri kita sebagai pemudi Sholihah berakhlakul karimah, kemudian di musykernas
II kita fokus pada sinergitas program, maka di musykernas III ini saatnya kita
menguatkan kinerja melalui pembinaan kader”, ujar Ketua Umum Pemudi Persis, Hj.
Gyan Puspa Lestari, lc,. M.Pd dalam sambutannya.
Para penasehat PP Pemudi persatuan Islam pun terlihat hadir dan
memberikan tausiyah dalam acara tersebut.
Hj. Lela sa’adah, S.Pd mengingatkan akan pentingnya komunikasi
produktif dan efektif dalam berorganisasi,
Wanti Fitriani mulyasari, S.Pd mengingatkan akan pentingnya
memperhatikan nizham atau aturan berjam’iyyah hingga mengingatkan pula pada
persiapan muktamar.
Ada pemandangan yang berbeda di musykernas III PP Pemudi Persis
kali ini. Suasana haru dengan cucuran air mata ikut menjadi bagian acara yang
berlangsung dari pukul 09.30-17.00 tersebut.
Pimpinan Pusat Pemudi Persis harus melepas 4 orang tasykil
terbaiknya berkaitan dengan purnanya tugas mereka yang dibatasi oleh aturan
usia aktif di organisasi pemudi persis.
“Berat, namun inilah aturan yang telah kita buat bersama dan inilah bukti ketaatan kita pada aturan organisasi, yang harus menjadi contoh untuk pimpinan jenjang dibawah” ucap Hj. Gyan pada saat pelepasan Tasykil Purna Tugas.
“Berat, namun inilah aturan yang telah kita buat bersama dan inilah bukti ketaatan kita pada aturan organisasi, yang harus menjadi contoh untuk pimpinan jenjang dibawah” ucap Hj. Gyan pada saat pelepasan Tasykil Purna Tugas.
Dalam Musykernas III ini, ada rotasi kepemimpinan dan penambahan
tasykil baru yang kemudian disahkan pada acara tersebut.
Di akhir kegiatan, Hj. Gyan Puspa Lestari, Lc., M.Pd.,
menyampaikan 10 target setahun kedepan, beberapa diantaranya adalah
pengembangan jamiyyah melalui pembinaan dan pembentukan PW baru, yaitu PW
Kalimantan Timur dan Maluku,
kemudian, Penyusunan panduan advokasi dan Fiqh usroh,
optimalisasi taujihatul mubalighat, optimalisasi komunitas pemudi peduli ASI,
komunitas HIPPI (Himpunan pengusaha pemudi) dan komunitas pemudi cinta
Al-Quran.
Semoga apa yang direncanakan bisa terlaksana dengan ikhtiar yang
optimal dan hasil yang maksimal. (/RF
++++
Himi Dorong Pesantren sebagai Basis Pengkaderan Persis
dan Otonom
Feb 7, 2017
PW Himi Persis Jawa Barat mendorong penuh asatidz di seluruh
Pesantren Persatuan Islam (PPI) untuk menjadikan pesantren sebagai basis
pengkaderan Persis dan Otonom.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua PW Himi Persis Jabar, Fuzi
Purwati, senin (06/02/2017). “Harapannya, loyalitas dan militansi terhadap
Persis-nya menjadi jauh lebih baik”, ujar Fuzi.
PW Himi Persis Jabar memandang bahwa sampai saat ini, terjadi
ketidakseimbangan antara jumlah lulusan atau alumni PPI dengan kader yang
bergabung menjadi anggota Himpunan Mahasiswi Persis.
“Padahal sebagaimana kita ketahui semakin tahun semakin banyak alumnus
kita yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik negri ataupun swata
dengan latar belakang program studi yang beragam”, tuturnya.
Fuzi menjelaskan, analisis sementara ada dua faktor yang paling
mendasar. “Pertama, loyalitas dan militansi alumnus PPI yang belum seragam
berada dalam semangat yang sama, yakni tetap berada dan yakin untuk terus
berjuang di dalam Dakwah Persis, dimanapun dan kapanpun ia berada”, ungkap
Fuzi.
“kedua, hal ini pun menjadi tantangan untuk Himi Persis sendiri,
untuk terus dan terus memperbaiki organisasi, sehingga mampu mempunyai daya
tarik atau magnet yang kuat untuk semua mahasiswi alumnus PPI sehingga ia mau
bergabung di barisan dakwah Himi Persis”, pungkasnya. (HL/TG)
++++
Pemuda Persis Gelorakan Ghirah Berjamiyyah dengan
Gerakan Shalat Shubuh di Mesjid
Pemuda Persis memiliki cara untuk menjaga militansi dan ghirah
berjamiyyah, salah satu yang tengah diupayakan adalah gerakan shalat shubuh di
mesjid. Hal tersebut disampaikan oleh Iman Kodariansyah, bidang dakwah PC
Pemuda Persis Pameungpeuk, senin (06/02/2017).
Rasulullah SAW pernah bersabda: “khairul quruun qarni.. “, zaman
terbaik terbaik adalah zaman-Ku. Dan masa keemasan islam itu akan terlahir
kembali sebagaimana kita dapati dalam hadis riwayat Imam Ahmad tentang lima
fase zaman. Iman menyebutkan, inilah masanya.
Sudah saatnya orang islam kembali memimpin bumi ini, melahirkan
generasi emasnya. “Jika kita beriman bahwa Rasulullah SAW adalah uswah
kita, berarti kita tinggal memakai pola beliau untuk melahirkan generasi
emas itu. Dan pasti melahirkan generasi emas itu kita lakukan secara bertahap.
Jika kita sekarang shalih berarti tugas kita adalah melahirkan generasi yang
lebih shalih dari kita dan seterusnya”, papar Iman.
Iman pun menjelaskan, tidak ada jalan lain bagi kita, mulai dari
sekarang terus mencoba menyamakkan level kita dengan level para sahabat.
Termasuk dalam urusan ibadah. Terutama ibadah shalat. Tidak hanya masalah
teknis yang harus betul-betul sesuai sunah. Tetapi ruh dari shalat itu sendiri
yang mungkin kita jarang membahasnya.
“Kenapa harus jamaah shalat itu mesti yang muda? Itu panjang
pembahasannya. Nanti ada pembahasan, kenapa Nabi untuk memimpin bumi ini pilih
yang muda? Jadi jika masjid diisi oleh anak muda, ini sudah benar. Itu mungkin
yang menjadi alasan melaksanakan gerakkan shubuh berjamaah ini. Mudah-mudahan
istiqamah”, Iman mengungkapkan.
Bidang Dakwah PC Pemuda Persis itu pun menerangkan bahwa,
Pimpinan Cabang mengundang para pimpinan jamaah untuk bisa hadir. Dimulai
dengan acara mabit yang diisi dengan silaturahmi dan curah gagasan. Sehingga
membangun ukhuwah antar anggota. Kemudian istirahat.
“Setelah itu shalat tahajud, shalat subuh yang dipimpin ustadz
asep ihsan sebagai imam. Kulsub oleh ust yayan. Ditutup dengan mushafahah antar
peserta. Betul-betul kami merasa bahagia, sulit diungkapkan”, ujar Iman.
Iman menjelaskan tujuan diadakannya gerakan shalat shubuh
berjamaah di mesjid. “Pertama, kita menghidupkan sunah nabi SAW. Yang pasti
mendapat pahala di dunia dan akhirat”, jelas Iman.
“Kedua, sungguh di setiap sunnahnya menyimpan hikmah dan
pelajaran yang agung. Pada shalat ada imamahnya berarti belajar memimpin dan
dipimpin, melatih kesabaran, tempat silaturahmi, tempat untuk menambah ilmu dan
masih banyak lainnya”, tambah Iman.
“Terakhir, saya yakin program ini bisa meningkatkan ghiroh
berjamiyyah sesuai tema muscab PC Pemuda Persis Pameungpeuk tahun ini”, pungkas
Iman. (HL/TG) (Sumber: persis.or.id)
++++
Dr.
Jeje Zaenudin : Sertifikasi Da'i Tidak Realistis dan Sarat Kepentingan Politik
Wakil Ketua Umum PP Persatuan
Islam (Persis) Dr. Jeje Zaenudin menilai rencana pemerintah untuk melakukan
sertifikasi da'i dan mubaligh tidak realistis.
"Ide sertifikasi dai/khatib yg datangnya dari pemerintah dlm hal ini Kemenag, disamping tidak realistis juga terkesan sangat sarat kepentingan politis," kata Ustadz Jeje di Jakarta, Senin (6/1/2017)
Menurut Ustadz Jeje, ada sejumlah alasan ide sertifikasi da'i tersebut menjadi tidak realistis. Pertama, ia menilai selama ini pembangunan masjid, pengelolaan, pemakmuran dan penjadwalan para khatib jumat atau para dai pengajarnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat ataupun oleh yayasan dan ormas Islam. Pemerintah tidak ada andil dalan pengelolaan dakwah selama ini. Sehingga, pemerintah tidak berrhak mengintervensi dan mengatur para da'i.
"Bagaimana mungkin tiba tiba akan akan disertifikasi oleh pemerintah?" tegasnya.
Kedua,lanjutnya, alasan sertifikasi untuk menghindari atau mencegah mimbar Jumat dijadikan ajang ujaran kebencian dan caci maki, terlalu mengada-ada.
"Para dai yang jadi khatib tentu sudah sangat faham tentang rukun syarat maupun adab-adab khotbah. Kalaupun didapatkan kejadian itu hanyalah kasuistis yang tidak boleh digeneralisir dan tidak tepat solusinya dgn sertifikasi," ungkap Ustadz Jeje.
Lebih dari itu, Ustadz Jeje berpendapat, bahwa rencana sertifikasi di saat para ulama dan da'i sedang memimpin perlawanan mengkritisi kebijakan pemerintah agar lebih memperhatikan tuntutan umat Islam akan terkesan kuat sebagai upaya pemberangusan.
"Jelas akan ditafsirkan oleh umat Islam sebagai upaya pembungkaman bahkan intimidasi terselubung terhadap gerakan para ulama," tandasnya. (voa-islam.com)
"Ide sertifikasi dai/khatib yg datangnya dari pemerintah dlm hal ini Kemenag, disamping tidak realistis juga terkesan sangat sarat kepentingan politis," kata Ustadz Jeje di Jakarta, Senin (6/1/2017)
Menurut Ustadz Jeje, ada sejumlah alasan ide sertifikasi da'i tersebut menjadi tidak realistis. Pertama, ia menilai selama ini pembangunan masjid, pengelolaan, pemakmuran dan penjadwalan para khatib jumat atau para dai pengajarnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat ataupun oleh yayasan dan ormas Islam. Pemerintah tidak ada andil dalan pengelolaan dakwah selama ini. Sehingga, pemerintah tidak berrhak mengintervensi dan mengatur para da'i.
"Bagaimana mungkin tiba tiba akan akan disertifikasi oleh pemerintah?" tegasnya.
Kedua,lanjutnya, alasan sertifikasi untuk menghindari atau mencegah mimbar Jumat dijadikan ajang ujaran kebencian dan caci maki, terlalu mengada-ada.
"Para dai yang jadi khatib tentu sudah sangat faham tentang rukun syarat maupun adab-adab khotbah. Kalaupun didapatkan kejadian itu hanyalah kasuistis yang tidak boleh digeneralisir dan tidak tepat solusinya dgn sertifikasi," ungkap Ustadz Jeje.
Lebih dari itu, Ustadz Jeje berpendapat, bahwa rencana sertifikasi di saat para ulama dan da'i sedang memimpin perlawanan mengkritisi kebijakan pemerintah agar lebih memperhatikan tuntutan umat Islam akan terkesan kuat sebagai upaya pemberangusan.
"Jelas akan ditafsirkan oleh umat Islam sebagai upaya pembungkaman bahkan intimidasi terselubung terhadap gerakan para ulama," tandasnya. (voa-islam.com)
Wakil Ketua Umum PP Persis, Dr. Jeje Zaenuddin, menilai ada
pihak-pihak yang mempunyai akses kuat kepada lembaga-lembaga penegak hukum
untuk mengkriminalisasi ulama dan aktivis Islam yang kritis pada penguasa.
“Saya menilai itu bukan skenario negara, tetapi mungkin
saja ada pihak-pihak yang punya akses kuat ke lembaga-lembaga penegak hukum
untuk memengaruhi kebijakan negara di bidang hukum”, ujar Dr. Jeje
Pihak-pihak tersebut dirasa tidak suka dan memusuhi kepentingan
politik umat Islam sehingga para penegak hukum terkesan berat sebelah.
“Umpamanya oknum partai penguasa, untuk melemahkan lawan lawan
politiknya. Tapi hal itu tentu saja akan sulit dibuktikan namanya juga
intervensi politik,” tambahnya. Beliau memandang, intervensi terhadap aparatur
hukum bisa saja terjadi dilakukan oleh pihak tertentu yang sangat disegani oleh
penguasa.
Dr. Jeje pun menjelaskan bahawa Indonesia sebagai negara
hukum wajib bersikap sesuai dengan prinsip-prinsip negara hukum,
yaitu hukum harus jadi panglima dalam segala kebijakan negara, dan
seluruh warga negara diperlakukan sama di depan hukum.
“Tidak boleh hukum dijadikan alat kepentingan politik
penguasa untuk memberangus lawan politiknya. Dan tidak boleh bersikap
diskriminasi terhadap salah seorang atau kelompok orang dari warga negara,”
ujarnya. (HL/TG) persis.or.id
+++
Persis Bentuk HIPPI untuk
Kolektivitas Ekonomi Jamiyyah
Bandung – persis.or.id, Ketua Himpunan Pengusaha Persatuan Islam
(HIPPI) H. Use Juhaya, menyebutkan bahwa dalam membangun kekuatan ekonomi
jamiyyah Persis diperlukan gerakan kolektivitas.
“Untuk meningkatkan ekonomi umat di jamiyyah Persis maka kita
bentuk HIPPI sebab banyak pengusaha Persis yang sukses, hanya saja masih
sendiri-sendiri. Sekarang saatnya saling bersinergi dan menguatkan, disinilah
tujuannya”, ujar H. Use, saat ditemui dalam acara Musykerwil I PW Persis Jabar,
sabtu (04/02/2017).
Saat ini HIPPI sudah membentuk tasykilnya serta melibatkan semua
otonom Persis. “Tanggal 1 Februari kemarin, alhamdulillah acara silaturahim dan
pembentukan tasykil sudah dilakukan. Beranggotakan semua otonom bidang ekonomi,
termasuk kita libatkan PW Persis Jakarta dan Jawa Barat”, jelas H. Use.
Beliau menambahkan bahwa untuk menghimpun seluruh pengusaha di
Persis perlu waktu yang tak sebentar. “Kita saat ini sedang menyusun pola untuk
mendatanya”, imbuh H. Use.
Untuk lebih memantapkan langkah HIPPI ini, H. Use pun mengagendakan adanya Focus Group Discussion (FGD). “Inginnya ada FGD dan mengundang ormas Muhammadiyyah, sebab Muhammadiyah dinilai sudah memiliki prototipe yang bagus dalam hal ini”, tuturnya.
Untuk lebih memantapkan langkah HIPPI ini, H. Use pun mengagendakan adanya Focus Group Discussion (FGD). “Inginnya ada FGD dan mengundang ormas Muhammadiyyah, sebab Muhammadiyah dinilai sudah memiliki prototipe yang bagus dalam hal ini”, tuturnya.
Setelah ada konsep atau gambaran dari FGD tersebut HIPPI akan
menggelar pelantikan dan musyawarah kerja. (HL/TG)
+++
PW Pemudi Persis Jawa
Barat Selenggarakan Musykerwil 2
Pimpinan Wilayah (PW) Pemudi Persis Jawa Barat menyelenggarakan
Musyawarah Kerja ke-2 pada hari ahad (12/03/2017) bertempat di RM
Sukahati-Cipacing.
Adapun tema Musykerwil kali ini adalah “Mempertegas Peran Pemudi
Persis sebagai Al-Mar’ah Al-Shalihah”. Musykerwil ini dihadiri oleh 52 orang
perwklan dri 12 PD dan 2 PC non PD dan acara dibuka oleh Sekretaris PW
Persis Jawa Barat, Ustad. Edi Surahman.
Selain itu acara musykerwil juga ada pembai’atan tasykil baru
yang diangkat adalah sdri. Lusi Yulia Hartini, S.Pd. sebagai Ketua Bidgar
Kaderisasi, sdri. Aas Asmarani sbg Ketua Bidgar Ekonomi, dan sdri. Yanti
Rusliyanti F, S.Pd.I. sebagai Ketua Bidgar Advokasi.
Juga telah memberhentikan sdri. Neneng Kurniawati dan sdri.
Pipit Ratna Wida dikarenakan usia sudah bisa layak masuk ke estafeta perjuangan
di Persistri.
Mudah-mudahan program jihad satu tahun kedepan bisa terlaksana
dan lebih baik lagi. (*)

Post a Comment